"Di satu ketika, aku pernah sangat Gibranisme.
Bagiku Petojo bukan sebuah kota, namun puisi..."

Saturday, July 11, 2009

Pemilu


Nomor tiga yang saya contreng pada Pemilu tahun ini. Pilihan saya akan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto terjadi amat spontan. Sebuah pilihan yang baru diputuskan ketika masuk bilik suara.

PILIHAN itu memang baru diputuskan di bilik suara. Tapi pergulatan menuju pilihan itu tidak terjadi begitu saja. Makan waktu beberapa minggu untuk memikirkannya. Saya bersikap begini bukan karena agar nilai PPKn di sekolah dapat delapan, bukan juga biar dicap nasionalis, apalagi biar dikenal sebagai anak muda yang (sok) kritis. Saya cuma berpikir sederhana, ingin ambil bagian dalam hidup bermasyarakat. Sayang sekali kalau hidup saya hanya diperintah nilai bagus PPKn atau hanya tunduk pada tuntutan pencitraan di masyarakat. Saya lebih nurut kalau disuruh ibu saya untuk ambilkan balsem di lantai atas.

Pemilu presiden tahun ini adalah yang pertama buat saya. Pemilu 5 tahun lalu saya absen. Saya ogah mampir ke TPS walau letaknya persis di depan pintu belakang rumah saya. Pemilu kali ini, saya ogah juga. Maksudnya ogah untuk tidak memilih. Sekalipun mencontreng semua pasangan dan dianggap hangus, saya anggap itu sudah memilih.

Saya dihadapkan pada tiga pilihan pada pemilu 2009: nomor dua, nomor tiga, atau coret-coret kertas suara. Nomor satu memang tidak masuk dalam daftar pilihan sejak pertama. Saya sudah enggan dengan Mega sejak lama, apalagi dengan pasangannya. Sebenarnya JK-Win juga sudah saya buang sejak awal (karena Wirantonya), tapi lewat tulisan ini saya ingin berbagi kenapa toh akhirnya malah JK-Win yang saya contreng.

Singkat cerita, lewat pilihan saya ke JK-Win, saya ingin bicara soal bahasa iklan dalam politik. JK-Win, pasangan yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, ternyata malah saya contreng. Dan saya yakin, ini akibat metode tim sukses mereka dalam mengemas kampanyenya yang menurut saya lebih cerdas, menarik, dan simpatik. Tiga hal yang tidak terjadi pada Mega-Pro dan SBY-Boediono.

Kita akan mengangguk bersama kalau dikatakan bahwa Pemilu di Indonesia sangat tidak mempesona. Masing-masing dari kita akan lebih nafsu untuk ngutak-ngatik fesbuk atau lebih menarik untuk menonton iklan rokok, dibanding mengikuti perkembangan kampanye para capres-cawapres. Mereka sama sekali tidak menarik, malah cenderung memuakkan!

Bagaimana tidak muak, tiap hari wajah mereka meneror kita di sana-sini. Di televisi, di koran, di pintu gerobak nasi goreng, di kaca angkot, di spion bajaj, di kaos tukang parkir, sampai di obrolan warung tegal. Sebenarnya, bukan teror wajah mereka yang membuat saya sebal, tapi isi dari kampanyenya yang ompong. Tidak ada yang menggugah saya untuk memilih salah satu dari mereka selain karena latarbelakangnya. Saya hampir-hampir tidak bisa membedakan mereka karena isi bualannya sama saja.

JK-Win agak lain buat saya. Kampanye mereka jelas lebih menarik. Saya suka dengan iklan yang dikemas. Saya terkejut dengan kelugasan JK saat debat capres yang berani menunjukkan ke-aku-annya. Dia berani tampil menyerang, percaya diri, dan memperlihatkankan bahwa dia berbeda.

Konsep kampanye mereka sangat simpatik dengan mengundang tokoh-tokoh untuk menyatakan dukungan. Apalagi ditambah dengan slogan untuk menjadi bangsa mandiri. Pasangan ini, saya yakin, banyak menggoda para pemilih yang berpendidikan. Kampanye mereka menyodorkan gagasan, karena itu mengusik pemilih dalam taraf nalar, bukan emosi, bukan kekultusan.

Sebaliknya, kampanye SBY dan Mega lebih sebatas pengukuhan citra diri masing-masing. Mega dengan nebeng nama besar bapaknya agar dikulktuskan, sedang SBY tidak punya amunisi program lain selain mengucap ”Lanjutkan” sampai berbusa. Tidak ada tawaran gagasan konkret dari Mega-Pro dan SBY-Boediono. Mereka hanya mengulang-ulang narsistik pribadi. (Mega-Pro memang terlihat mengeluarkan ide lewat progam-program yang disodorkan. Tapi itu tidak lebih dari sekedar fotokopi buku sejarah). Intinya, kampanye mereka lebih menggugah secara emosional dari pada nalar. Mereka tidak sadar, kalau bangsa ini butuh edukasi politik lebih cerdas ketimbang menaikturunkan emosi.

Dugaan saya, baik Mega maupun SBY sadar akan ketertokohan mereka. Sehingga karenanya, tanpa bergagas pun massa mereka sudah ada. Beda dengan JK yang massanya mungkin hanya datang dari jaringan parpol atau koleganya. Mungkin inilah mengapa, SBY dan Mega enggan menawarkan gagasan: takut membuat blunder. Mereka merasa lebih baik cari aman dan menutup sama sekali celah untuk didebat karena ide mereka. JK sebaliknya, dia yang tidak memiliki massa loyal, merasa perlu jungkir balik agar dapat mencuri suara dari massa Mega maupun SBY. Dan terbukti, suara saya dicuri ketika Pemilu.

Saya menyadari bahwa proses berdemokrasi masyarakat Indonesia masih anget-anget tahi badak (kasihan tahi kucing mulu). Masyarakat belum cerdas untuk menentukan sikap karena pilihan pribadi. Masyarakat lebih condong bersikap karena faktor X di luar dirinya seperti ikut-ikutan, ketokohan, tidak ada pilihan, nurut suami atau istri, bahkan sampai yang memilih karena dibayar. Tapi dengan meyaksikan langsung proses demokrasi tahun ini saya yakin kita sudah di titik mula jalur demokrasi yang ideal.

Lewat kampanye JK-Win, saya senang, karena ada yang mengisi ranah kognitif saya ketimbang emosional semata. Artinya, masyarakat kita sudah mulai bisa dididik dalam berpolitik melalui kampanye cerdas yang terbukti efektif. Atau sebaliknya, kampanye kultus-mengkultus tetap dilakukan, agar masyarakat tetap bodoh?

Lalu, apakah dengan mencentang JK tepat pada kumisnya, menunjukkan bahwa saya mendapatkan presiden ideal? Tidak, sama sekali tidak. Sampai di bilik suara, bahkan sampai SBY menang, saya tidak menemukan pilihan ideal di Pemilu tahun ini. Lewat pilihan ke JK, saya hanya ingin menunjukkan, bahwa saya menghormati capres-cawapres yang mengakui keberadaan saya sebagai manusia yang berpikir. Itu saja.

Monday, June 29, 2009

Pempek


Ujung hidung saya menangkap bau yang sudah dihapalnya belasan tahun. Dialah yang membujuk kaki saya untuk turun ke lantai bawah.


BENAR saja! Apa yang diindra si hidung, ternyata sama persis dengan apa yang ditangkap mata saya: pempek. Bau dari penganan khas Palembang ini selalu mengganggu konsentrasi saya. Tak terkecuali hari ini. Ibu saya yang Palembang memang pandai menggoda lidah siapa saja dengan pempeknya.


Suara gemericik dari letupan-letupan kecil minyak goreng selalu melengkapi perziarahan kuliner saya dengan pempek. Artinya, hanya pempek panas, yang baru diangkat dari kualilah, yang menjadi mangsa saya. Sehingga saya berusaha duduk tak jauh dari dapur, tempat di mana dengan ajaibnya makanan perangsang lidah ini diolah.


Pempek asli Palembang biasanya dibuat dalam berbagai bentuk: panjang, isi telor, keriting, gepeng, dan bulat. Pada bentuk yang terakhir inilah Ibu saya paling sering membuatnya. ”Biar gak repot”, ujarnya.


Cairan encer bewarna coklat kehitaman, selalu menjadi teman setia saat melumat pempek. Cuka pempek, begitu biasa disebut. Namun sudah jadi kebiasaan saya untuk selalu memulai ritual melahap pempek tanpa cuka. Dengan begitu, lidah saya mampu melacak apa yang kurang dari pempek hari ini.


Rasa ikan tenggirinya amat pas. Tidak terlalu tajam, tapi juga tidak tenggelam karena adonan terigu. Ketika digigit, gress!, tingkat kekenyalannya amat sempurna. Lebih lembut dari bakso ikan, tapi sedikit lebih kenyal dari telur puyuh. Gigi depan saya merasa amat merdeka ketika panasnya pempek sebesar bola pingpong menari-nari dengan bebasnya. Seketika itu juga aroma bawang putih-bawang merah meruap masuk ke langit-langit mulut saya dan menyusup cepat ke kerongkongan. Takaran garam dan santan juga terasa amat pas. Sempurna.


Kontur pempek yang sedikit bergelombang, dan karenanya mencipta lekukan garing, adalah favorit saya. Karenanya, pempek-pempek yang menempati sebuah kotak plastik transparan buram warna putih keabu-abuan dengan ukuran panjang dan lebar kurang lebih 30 cm x 15 cm itu, sering saya gelindingkan satu per satu, sekedar untuk melihat konturnya. Pempek paling bopeng yang lebih sering saya mangsa. Ada kriuknya.


Sebuah mangkok plastik transparan buram berwarna biru saya keluarkan dari lemari piring. Di satu sisi tertulis sepotong merk: Supermie. Sebuah botol beling bekas sirup berisi cuka pempek sudah siap sedia sejak tadi. Sebuah stiker kumel yang sudah compang-camping di salah satu sisi botol memperkenalkan diri kalau ini bekas botol sirup ABC rasa leci. Di permukaan teratas cairan hitam kecoklatan ini mengapung segumpal ampas dan biji cabai. Sedang sisanya yang lain mengendap di dasar botol. Tenggelam.


Setelah asik mengunyah pempek tanpa cuka, saya membiarkan cuka pempek ikut bergulat bersama di dalam mulut. Pempek serasa lumer di lidah ketika disantap bersama cuka. Panas dan pedasnya cuka memberi tamparan tersendiri buat lidah. Sesekali satu sendok cuka menyusul ke mulut ketika pempek sedang terkunyah. Lewat celah-celah gigi saya yang tidak rapat, cairan campuran gula jawa, cabai, cuka, garam ini menyelinap ke sana ke mari menguasai mulut. Sehingga sesudahnya, lidah saya serasa diduduki dua perempuan tambun selama berjam-jam: panas.

Thursday, June 4, 2009

Opa Pram


Ponselku berbunyi santun dan sertamerta membikinku bergidik. Kubaca dengan cemas isinya dan benarlah kecemasan itu. Aku rasakan tenaga di kaki menguap setelah pesan yang cuma sepotong itu selesai kubaca:
_____________________
Mas, Opa sudah pergi…

Pengirim:
Mama
+628149090803
_____________________

TAK terkejut aku mengetahui kedukaan ini. Aku memang sudah mengira sebelumnya, jauh sebelum hari ini mampir. Setelah mendengar Opa dirawat di St. Carolus karena diseruduk mobil patroli Satpol PP, aku tahu, saatnya sudah tiba. Jadi aku sama sekali tak terkejut dengan SMS dari Mama itu. Yang membuatku terkejut – bahkan amat sangat terkejut – justru ketika kemarin lusa tahu bahwa Opa ditabrak di atas zebracross, sebuah tempat yang menurut Opa paling ramah.

Opa memang dikenal oleh kami keluarganya dan masyarakat sekitar rumah sebagai orang yang giat mengkampanyekan budaya tertib berlalulintas. Bukan saja giat, tapi juga resek dalam hal ini. Ia tak segan berkata jorok dan makian pada pengendara sepedamotor yang seenaknya melintas di trotoar. Dengan santainya ia bisa menghampiri dan mengetuk kaca jendela mobil yang seenaknya buang sampah di jalan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa amat menyakitkan dan menjijikan. Tapi terhadapku, tak pernah kudengar darinya sehuruf, bahkan senafas pun, yang terkesan kasar atau menakutkan. Sebaliknya, tuturnya amat santun dan patut, hingga waktu ingusan dulu aku mengira ia menyortir kata dari kamus sebelum berbicara – yang kemudian kudapati bahwa aku keliru setelah membongkar isi tasnya atau meraba-raba kantong celana dan saku kemejanya, berharap menemukan kamus kecil atau buku saku.

Ia juga seorang dramawan yang baik – aku tak lupa soal ini. Begini ceritanya: pernah waktu aku masih duduk di kelas 3 SD, seperti biasa ia mengantarku berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya tak lebih dari duapuluh kali kabel gulungan dari rumah. Di tengah gang satu arah itu kami berhadapan dengan sepedamotor nekat yang berkendara melawan arah. Dengan spontannya Opa sengaja melebarkan jarak gandengan tangan kami agar sepedamotor itu tak bisa lewat. Berciuman dengan lembutlah roda sepedamotor buatan Jepang itu dengan telapak sandal Opa yang buatan Cina. Ketika sang pengendara membuka kaca helm, Opa memaki garang, “Tolol kamu! Bagaimana kamu bikin kamu punya mata sampai tidak melihat plang verboden di depan sana!?”, sambil menoyor kepala pengendara itu dan berlanjut lagi kekinya, “Sontoloyo!”.

Kemudian di hadapan tolakpinggang Opa, pengendara itu menjadi gentar. Diputarkannyalah sepedamotor buatan Jepang namun joknya permakkan Sawah Besar itu dengan perlahan. Tolakpinggang Opa baru reda setelah sepedamotor itu hilang menyelinap ke tikungan.

Opa pun terbahak bangga dan menanyakan pendapatku, “Bagaimana ekting Opa, Mas? Tidak kalah dengan Steven Seagel kan? ”. Belum kujawab, dan Opa tenggelam lagi dalam tawanya sambil kembali menuntunku sampai ke gerbang sekolah.

Papa malah punya cerita lain mengenai keganjilan – bagiku keheroikan – Opa. Dalam suatu kesempatan makanmalam, rupanya Papa senewen besar terhadap Opa akibat kejadian tadi siang. Senewennya itu dibawa-bawa hingga makanmalam yang berbuntut debat dengan Opa – di keluargaku, debat, bahkan dengan yang lebih tua sekali pun, diperbolehkan, malah diwajibkan.

“Apa Bapak pikir perbuatan Bapak tadi itu tepat?”, mulai Papa mengajukan tanya kepada Opa yang sedang duduk di kursi kebesarannya, persis sebuah persidangan.

Menjawab lelaki bernama Slamet itu Opa terkesan santai, “Perbuatan yang mana, Met?”.

“Soal tadi siang di mobil. Di lampumerah. Untuk apa sih Bapak turun dari mobil dan memberi kotbah anak muda bersepeda motor itu?”, nada Papa masih senewen.

“Oh. Itu bukan memberi kotbah, Met. Itu mengomeli namanya.”

“Terserah Bapak. Mau kotbah kek, mau ngomel kek, yang jelas aku malu! Masih untung orang itu tidak balik mengomel atau bahkan menjotos Bapak. Bisa repot urusannya!”, aksi cuek Opa membuat Papa makin senewen.

Pendek cerita, ternyata ketika Papa dan Opa di lampumerah, di mobil, Opa melihat seorang anak muda berkendara sepedamotor berhenti di depan garis stop, bahkan sampai ke areal zebracross. Seperti tabiatnya yang biasa, turunlah Opa tanpa ragu dari mobil, menghampiri orang itu, mengomeli dan menjewernya supaya memundurkan sepedamotor hingga ke tempat yang patut.

“Itu bukan kampanye budaya namanya, tapi pemaksaan keyakinan!”, Papa menutup debat dengan sewot. Dan kami sekeluarga menutupnya juga dengan cara sendiri-diri: aku dan Ririn tertawa mengakak, Mama tersenyum mengeleng-geleng, dan Opa cekikikan hingga terbatuk.

***

Bertahan selama 2 hari di ruang ICU, bagi seorang lelaki tua macam Opa adalah sebuah kehebatan tersendiri bagiku, dan mungkin juga bagi keluargaku: Papa, Mama, Ririn adikku semata wayang yang duduk di bangku kuliah, juga kerabat yang lain. Sikapnya yang menolak tunduk pada nasib seperti ingin menunjukkan agar kami meniru laku hidupnya. Bagaimana tidak, Opa bukan saja mampu bertahan dalam ketidakpastian hidup, tapi ia justru masih sempat menghibur kami dengan senyumnya. Satu senyuman seorang yang tergeletak kritis mungkin sebanding dengan 2 kali naik-turun Gunung Gede secara maraton. Tapi Opa tidak memperlihatkan itu, dan melakukannya dengan tulus, seolah-olah ingin berkata, “Opa masih kuat kok”.

Terhadap senyum Opa itu, kami sekeluarga cuma bisa membalasnya dengan senyum pula, disertai airmata dan doa tentunya. Airmata – juga airkeringat – kami makin deras tatkala tahu bahwa kecelakaan itu dinyatakan sebagai kesalahan Opa oleh polisi.

***

“Anda menjadi polisi dengan pendidikan atau menyogok? Apa tidak pernah anda baca dalam ilmu marka jalan bahwa zebracross itu tempat untuk menyeberang?”, cecarku galak meniru Opa ketika di kantor polisi, siang hari setelah kecelakaan.

“Bung Onath, Bung harusnya tidak membiarkan lelaki setua ini keluyuran sendirian. Bung kan tahu sendiri kalau jalanan di Jakarta itu kejam. Di mana Bung berada ketika terjadi kecelakaan?”, polisi muda berpangkat Sersan Dua itu malah berbalik tanya.

Kontan aku langsung menubruk dengan nada tinggi, “Apa anda merasa bahwa saya perlu dituntut karena lalai menjaga Opa saya, sehingga pertanyaan tadi muncul dari mulut anda? Sebegitu tunduknyakah polisi berpendidikan seperti anda pada peraturan formil yang multitafsir itu ketimbang tunduk pada perasaan sendiri? Bapak Sersan yang budiman, sekali lagi saya katakan, Opa saya ditabrak di zebracross, bukan di lintasan balap!”.

Teman polisi itu rupanya gentar melihat mataku yang penuh marah, sehingga dibatalkannya menjawabi aku, yang kemudian yang berpangkat Sersan Dua-lah yang menjawab lagi, terus menerus. Begulat kata aku dengan dia. Aku cukup bengis.

Rupanya polisi berpendapat bahwa Opa menyeberang pada saat yang tidak tepat, yakni ketika kendaraan sedang laju-lajunya. Mereka menegaskan berulang kali bahwa Opa tidak mau bersabar menunggu jalanan agak lenggang baru menyeberang.

Aku tahu sendiri prinsip Opa soal zebracross. Bukan saja tahu, tapi aku masih hafal bahwa baginya, pejalankaki adalah raja ketika menginjak zebracross. “Kamu tidak perlu ragu menyeberang bila di zebracross. Sudah sepatutnya para penguasa jalanan itu sejenak memberi tempo pada pejalankaki ketika di garis putih-hitam itu”, suara Opa lamat-lamat menggema dalam tenggorokanku.

Oping, petugas Linmas di kompleks kami pun terkejut besar ketika tahu Opa kecelakaan. Sepulangku dari kantor polisi, Oping sudah nangkring di depan pagar. Rupanya ia menungguku untuk mencari informasi soal Opa.

“Mas Onath, bener kagak Opa Pram dihajar mobil patroli Satpol PP ‘eni pagi? ”, tanya Oping dalam Betawinya yang kental.

“Benar Bang Oping. Gak ada yang bertanggungjawab. Polisi malah menyalahkan Opa yang tidak sabaran katanya”.

“Berarti bener ye ceritanya si Mansur soal Opa Pram. Saya emang empet banget tuh ama Satpol PP! Romannya suka sok jago! Kasihan ye Opa Pram, Mas Onath…”

Kujawab hanya dengan anggukan pelan sekaligus minta diri masuk ke dalam rumah.

***

Berangsur-angsur wajah tua Opa semakin jelas pada ingatanku. Bila semula hanya bayangan atau sesapu kuas, kini menjadi raut sesungguhnya, lukisan seutuhnya, lengkap dengan keriput dan uban, juga beberapa helai rambut rontok di bahu kemejanya.

Badannya tidak pernah terlihat bungkuk ketika berjalan. Sebagai mantan atlet posturnya pun tetap terjaga. Bugar dan proporsional. Tidak juga tergantung kacamata pada pengelihatannya. Ia juga hafal nama-nama warga di kompleks, terutama yang sering datang pada pelatihan lalulintas yang sering Opa adakan di rumah Pak Syukur, Ketua RT kompleks. Sebagai duda pun, ia tidak cengeng, merengek, meratapi dirinya yang cuma sebatang setelah ditinggal Oma 12 tahun yang lalu.

Opa Pram akan dikubur di sebelah makam Oma, seperti pintanya dulu. Aku memang bersedih karena kepergiannya. Terlebih kepergiannya ketika aku sedang merencanakan pesta pernikahanku dengan Wulan tahun depan. Cita-citaku untuk membiarkan bocah-bocahku yang gemuk bermain dengan Opa-nya, berkejaran dengan Opa-nya, bahkan mengulang masa kecilku dulu: mengantarku ke sekolah, memaki ‘monyet’ pada supir taksi yang menerobos lampu merah, dan mencegat pengendara sepedamotor di gang satu arah, kandas sudah. Aku harus mengusir impian macam itu yang mungkin akan menyerang di dinginnya malam.

“Tlulululut…tlulululut…tlulululut…”, ponselku berteriak kencang.

”Mas, di mana? Mama dan Papa dari tadi menunggu di rumah sakit. Cepatlah Mas ke sini!”, terdengar suara lirih di seberang sana, suara Ririn adikku.

Saturday, May 23, 2009

Merambah Malam di Sudut-sudut Hong Kong


Awal Maret 2009, malam hari. Belum semenit saya tongolkan diri keluar dari badan pesawat, tapi udara dingin langsung menyerbu tanpa permisi, memaksa menarik resleting jaket sampai leher.


JUSTRU kekaguman terhadap Bandara Internasional Makau ini yang merampas perhatian saya, bukan sapaan hawa dingin tadi. Makau, kota kecil yang luasnya hanya seperdualima Jakarta, pasti memikat siapapun yang pertama kali berkunjung, apalagi buat mereka yang berasal dari negara carutmarut seperti saya.


Bandara ini sungguh cantik. Sejak masih mengudara, dari jendela pesawat, warna-warni sinar yang memantul di lautan yang mengepung bandara ini sudah menggoda mata siapa saja. Predikat internasional yang tersemat memang diperlakukan dengan sungguh, bukan asal tempel. Kebersihan, desain megah, interior cantik, profesionalitas pekerja, papan informasi dalam beberapa bahasa, semuanya mengundang tanya: kenapa ini semua tidak terjadi di negara saya?


Ah, sial! Saya tak bisa terlalu lama mengagumi kota judi ini. Dengan 3 teman lain yang ikut dari Jakarta, kami harus bergegas menuju Kowloon, Hong Kong. Di sana, sebuah guesthouse yang kami pesan jauh-jauh hari sudah menunggu. Dari Makau, kami memerlukan menyeberangi perairan menggunakan feri.


Ada cerita lucu ketika kami menuju Terminal Feri Makau. Setelah menolak taksi dengan tarif mahal untuk mengantar, kami memutuskan menggunakan bis. Dari petugas informasi bagi para turis di bandara, kami diberitahu untuk mengambil bis berkode AP1. Tak lupa petugas tersebut membekali kami secarik kertas kecil dengan tulisan tangannya berhuruf Mandarin yang berarti Terminal Feri Makau. Belakangan kami ngeh, kalau mayoritas warga Makau tidak fasih berbahasa Inggris, sehingga secarik kertas tersebut akan berguna untuk bertanya. Dan benar saja, komunikasi kami yang sering tidak mulus, tergantikan dengan bahasa tubuh sambil menunjukkan kertas mungil tadi. Hanya kertas itu yang kami sodorkan setiap hendak bertanya. Sambil guyon, kami berjanji untuk menjaga baik-baik kertas tersebut. Bahkan seorang teman memotretnya, jaga-jaga kalau kertasnya hilang. Ya, di Makau memang hanya dua bahasa yang tersaji: Mandarin dan Portugis.


***


JARUM jam sudah mengarah ke angka 9 (1 jam lebih cepat dari Jakarta) ketika kami tiba di Terminal Feri Makau. Di depan loket penjualan tiket feri, kami disergap bingung. Kalau ada kamera yang merekam, mungkin kami akan menertawai diri sendiri ketika melihat ekspresi kebingungan kami. Bukan apa-apa, hanya saja kami dibuat ragu ketika hendak membeli tiket. Karena di depan loket ada pula seorang perempuan paruh baya yang juga menjual tiket, dan anehnya, malah lebih murah.


Di loket perusahaan feri First Ferry Macau itu dengan jelas terpampang tarif 175 MOP per orang, tapi sang encim tadi berteriak hanya dengan harga 160 MOP. Ternyata dia calo! Dan dasar calo, kalau bicara duit, malah lancar berbahasa Inggris. Akhirnya, dengan berlagak sok tahu, kami beli tiket dengan harga lebih murah itu. Belakangan kami tahu, calo-calo itu membeli tiket sebelum jam 6 malam dengan tarif 150 MOP. Kami tertawa geli sesudahnya ketika mengingat bahwa kami masih sempat-sempatnya menawar lebih rendah lagi.


Setibanya di Terminal Feri Kowloon– setelah berlayar dengan kecepatan tinggi dalam waktu kurang lebih 45 menit – kami mencari daerah Jordan, daerah di mana kami akan bermalam. Kertas kecil hasil cetakan dari internet yang menggambarkan posisi tempat kami akan menginap menuntun kami berjalan kaki. Setiap ada papan petunjuk jalan langsung kami satroni. Namun setelah merasa tersesat, kami putuskan untuk menggunakan kereta bawah tanah yang disebut MTR (Mass Transit Railway). Dan 4 HKD harus rela kami rogoh dari kantong.


Saya terkejut. Hong Kong pukul 10 atau 11 malam terasa seperti di Jakarta pukul 5 sore. Trotoar dipenuhi orang berlalulalang dengan amat padat. Toko-toko dan rumah makan belum berkemas. Transportasi publik masih ramai mengangkut beragam orang dengan busana kerja maupun santai. Ditambah dengan gaya berjalan warga Hong Kong yang cepat – bahkan di tengah laju eskalator yang cepat, sering saya disusul orang yang berusaha mendahului – kota ini seperti tidak menyimpan kantuk dan payah.


Bukan main! Di tengah suhu 16 derajat Celcius, banyak perempuan bergaya dengan pakaian terbuka: rok mini dan hotpants. Dan perempuan-perempuan tersebut, tanpa takut, berjalan berdua, bahkan sendiri, di trotoar pada pukul 11 malam. Hong Kong sebagai kota pusat perdagangan dan mode di Asia sudah jauh dari kesan kumuh dan bronx. Maka tak heran perempuan-perempuan tersebut – termasuk saya – berani berjalan sendirian menyusuri trotoar-trotoar yang dibuat remang dari jutaan sinar, baik dari lampu jalanan, maupun papan nama toko atau restoran. Sekalipun di trotoar-trotoar itu pula berjejer panti pijat plus-plus, klab malam, dan hotel prostitusi.


***


KELUAR dari stasiun Jordan melalui pintu C2 yang mengarah ke jalan Nathan Road, papan nama City Econo Guesthouse menyembul malu-malu di tengah kepungan belasan papan nama lain yang dibiarkan semrawut. Pemandangan khas Hong Kong.


Kami masuk lewat sebuah gedung bergang sempit dan bertangga hingga menemui sebuah lift tua yang deritnya sering mengejutkan. Pikiran ragu akan nyamannya guesthouse ini lenyap mendadak ketika suasana di lantai 6, lantai di mana City Econo Guesthouse berada, meramahi kedatangan kami. Seorang perempuan paruh baya menyambut kami dalam bahasa Indonesia pelo, ”Dari mana?”


Ibu Jenny namanya. Mantan WNI keturunan Tionghoa asal Medan ini bersama suami sudah beberapa tahun tinggal di Hong Kong mengelola usaha penginapan ini. Tidak sedikit dari tamunya adalah orang Indonesia. Kami merogoh kocek 600 HKD per malam untuk kamar berisi 4 ranjang, kamar mandi, tivi, pendingin ruangan, dan air panas. Lewat Ibu Jenny pula kami membeli tiket masuk Hong Kong Disneyland dengan harga 330 HKD, lebih murah 20 HKD dari harga resmi, 350 HKD.


***


HONG KONG adalah kota pelabuhan. Karena itu namanya dalam Mandarin adalah Xianggang. Artinya pelabuhan yang harum. Nama Hong Kong sendiri merupakan versi bahasa Inggris. Maklum, sejarah Hong Kong menunjukkan kalau Kerajaan Britania sudah mulai melakukan kontak sejak Dinasti Qing di tahun 1839. Penolakan akan impor opium Kerajaan Britania ke Hong Kong menyebabkan pertempuran yang dikenal Perang Opium. Perang ini terjadi sampai dua kali.

Setelah melewati masa penjajahan – termasuk pernah diduduki Jepang – Hong Kong akhirnya dikembalikan ke RRC oleh Inggris pada tahun 1997. Karena itu, bersama dengan Makau, Hong Kong merupakan Daerah Administratif Khusus yang memiliki otonomi sendiri dalam mata uang, bea cukai, hukum, dan sebagainya. Ada juga kelompok warga yang menolak pengembalian Hong Kong ke RRC. Kebanyakan dari mereka memilih hengkang ke negara lain, misalnya Kanada.


Seperti negara-negara jajahan Inggris lainnya – misalnya Malaysia dan India – Hong Kong memiliki konsep tata kota yang amat baik. Topografi Hong Kong yang unik – terdiri dari beberapa pulau, daerah perbukitan, dan pantai, sekaligus pembangunan modern: gedung pencakar langit, sistem transportasi, dan jalan layang – menunjukkan pengelolaan kota yang baik tersebut.


Sebut saja produk-produk tata kelola yang baik tersebut, misalnya jalur pedestrian dan sistem transportasi. Untuk menyoal prestasi di bidang transportasi, Hong Kong mampu menunjukkan kemapanannya: taksi, bis tingkat, jalan layang, trem, feri, bandara udara internasional, mesin parkir, dan kereta bawah tanah. Bicara soal yang terakhir ini, kereta bawah tanah, kami amat mengandalkannya untuk menjelajahi Hong Kong.


Kereta bawah tanah atau Mass Transit Railway (MTR) benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya: alat angkut massal. Seharinya MTR mampu beroperasi lebih dari 4 juta perjalanan! MTR yang dibangun pemerintah Hong Kong sejak tahun 1979 ini, sampai kini sudah melayani jalur sepanjang 211,6 km yang melewati 150 stasiun. Antar stasiun bisa ditempuh dalam waktu 3-4 menit. Dilengkapi pula papan penunjuk waktu tiba antar kereta di tiap stasiun dengan ketepatan yang amat presisi. Selain itu, tiap stasiun juga dilengkapi dengan pusat pelayanan penumpang, toilet, sarana bagi penyandang cacat, papan penunjuk arah, mesin penjual tiket dengan layar sentuh yang mampu memberikan uang kembalian, sampai warung kecil dan papan ramalan cuaca. Dan semuanya berfungsi!


Bila berniat untuk menjelajahi kota seharian penuh dengan MTR, Tourist Day Pass adalah pilihan yang tepat. Berbekal tiket seharga 55 HKD yang boleh dipakai sepuasnya selama 24 jam ini, kami menggunakannya untuk pergi ke banyak tempat. ”Mumpung sepuasnya!”, kira-kira begitu seru teman saya tak mau rugi.


Sebenarnya ada jenis pembayaran lain yang juga menguntungkan, yakni Octopus Card. Kartu yang mulai digunakan sejak 1997 ini menjadi alat pembayaran pengganti uang tunai yang praktis. Kini, kartu ini bisa dipakai untuk membayar MTR, bis, feri, mesin parkir, mesin minuman, mini market, restoran cepat saji, dan lain-lain. Dengan kartu ini, tiap transaksi mendapat potongan 10%. Penggunaannya mudah. Tinggal mendekatkan kartu pada mesin yang menyensor. Maka tak jarang kami saksikan banyak orang di Hongkong yang cukup menempelkan dompetnya – bahkan tas! – ketika bertransaksi – saking kuatnya sensor.

***


BEBERAPA hari di Hong Kong, saya percaya, melatih otot kaki saya yang jarang diajak olahraga. Bagaimana tidak, jalur pedestrian yang amat nyaman di Hong Kong memanjakan saya sebagai pejalan kaki – pejalan kaki yang biasa tidak dapat tempat di Jakarta. Seharian penuh saya bisa berjalan kaki tanpa berhenti – paling banter kalau dapat duduk di MTR. Tanpa disadari, tempo berjalan saya pun mengikuti irama cepat kebanyakan warga Hong Kong. Alhasil, dalam sehari saya berhasil meraih beberapa lokasi tujuan wisata, diawali dengan Wan Chai.

Wan Chai menjadi tempat peringatan atas kembalinya Hongkong ke Cina. Digelar juga upacara bendera tiap pagi. Namun sayang, kantuk yang lebih perkasa dari niat, membuat saya dan teman-teman bangun kesiangan. Masih beruntung kami sempat menjajal egg tart, kue lokal seharga 3,5 KHD, yang menjadi jajanan wajib bila berkunjung ke Wan Chai.


Kami juga sempat bergerak ke Causeway Bay karena tergiur promosi tempat makan yang katanya menyajkan berbagai masakan khas lokal dan interlokal – maksudnya dunia. Namun, setelah luntanglantung ke sana kemari, sempat juga tersesat dan diguyur hujan badai, yang didapat hanyalah kecewa. Pasalnya, tempat yang dimaksud adalah sebuah foodcourt yang menjual berbagai makanan khas Cina, Turki, India, Eropa, dan Jepang dengan harga selangit. Karena kendala bujet, kami urungkan nafsu untuk makan di sana. Akhirnya, sambil malu-malu kami masuki Kentucky Fried Chicken yang ada di seberang jalan!


Hollywood Road di Sheung Wan dan Kuil Che Kung di Sha Tin juga menjadi daerah jelajahan saya. Di tempat pertama terdapat banyak penjual barang-barang antik seperti di Jalan Suarabaya, Jakarta. Namun, bila di Jalan Surabaya kesemua pedagang menempati lapak kecil nan sempit, sedang di sini, lapak mereka terdiri berbagai ukuran dan gengsi: dari yang kaki lima, toko kecil, sampai toko mewah. Sedang kuil Che Kung yang merupakan peninggalan Dinasti Ming ini didirikan warga Sha Tin sebagai sarana memohon kesehatan, dan selalu ramai setiap hari ketiga tiap bulan pertama menurut kalendar lunar.


Tidak lengkap rasanya ke Hong Kong tanpa menyambangi Mongkok, sebuah daerah yang terkenal dengan Ladies Market-nya, yakni sebuah pasar malam kaki lima yang banyak menjual barang-barang keperluan perempuan – namun beberapa lapak juga menjual barang-barang untuk kaum pria. Di pasar ini, ribuan orang berjubelan dalam satu waktu. Bahkan pada jam-jam tertentu, saking ramainya, banyak orang yang berbincang-bincang di tengah jalan! Prinsip berbelanja di Mongkok, pembeli harus berani menawar harga, bahkan dengan tawaran tidak masuk akal sekalipun. Pasalnya, pedagang di sini sering memasang tarif amat tinggi, seperti yang biasa ditemui di Pasar Baru, Jakarta Pusat.


Olahraga membesarkan betis hari itu ditutup dengan sebuah pengalaman menakjubkan, yakni pertunjukkan Symphony of Lights di Avenue of Stars di East Tsim Sha Tsui. Setiap jam 8 malam, di tempat ini dipertunjukkan permainan lampu-lampu sorot dari gedung pencakar langit. Musik pun diputar untuk mengiringi permainan lampu tersebut.


Dengan lanskap gedung-gedung megah dan daerah perairan sebagai pemisah, diperkuat dengan tingkah hilir-mudiknya feri-feri yang melintas, tempat ini menimbulkan aura romansa yang sangat, mencipta kehangatan yang intim bagi siapa saja. Pantas saja Hong Kong selalu memesona para pasangan bulan madu, atau setidaknya sebagai rekreasi untuk sejenak mengalihkan pandangan dari poster-poster parpol dan caleg yang menyebalkan di Tanah Air.


Dimuat di Koran Tempo 17 Mei 2009 dengan versi sedikit berbeda

Thursday, April 23, 2009

Surat Seorang Sahabat


Ketika di satu pagi yang biasa mendarat pesan pendek dari seorang teman di Bandung, Syarief Maulana, saya dilanda canggung. Bukan apa-apa, isi pesannya memang pendek dan sederhana, tapi permintaannya tidak sependek dan sesederhana isinya.

“MAU nulis untuk merayakan ultah KlabKlassik?”, begitu kira-kira isi pesannya. Saya senang sekali diberi kesempatan untuk menulis yang kedua kali bagi sebuah komunitas yang selalu membuat saya iri dengan semangatnya. Dengan masih mengantuk saya iyakan saja permintaannya. Namun kegirangan saya tak berlangsung lama setelah disergap tanya: dalam kapasitas apa saya menulis?

Pasalnya, melihat deretan nama kontributor yang lain – Royke B. Koapaha, Jubing Kristianto, Iswargia R. Sudarno, Royke Ng, dan Bilawa A. Respati – saya merasa perlu menghadirkan keraguan atas permintaan Syarief. Apa tulisan saya, yang bukan siapa-siapa ini, perlu hadir untuk meramaikan isi buku dalam rangka menyambut hari jadi KlabKlassik yang ketiga ini? Saya merasa tidak memiliki alasan untuk dipilih KlabKlassik dalam menyumbang tulisan. Saya bukan orang Bandung, cuma sekali ikut kegiatan KlabKlassik (itu pun pulang dulan), dan bukan musikus ternama seperti beberapa nama di atas.

Tapi karena sudah janji, mau tak mau saya beranikan diri untuk bercuap-cuap lewat tulisan ini. Biarlah lewat tulisan ini saya hadir bukan sebagai apa-apa, kecuali sebagai sahabat. Sahabat KlabKlassik.

Sebagai sahabat, saya merasa perlu mundur sejenak ke belakang, melihat bagaimana penyemaian hubungan persahabatan ini terjadi. Kadang, dalam konteks ini, sering terjadi romantisasi yang berbunga-bunga, sekaligus bersedan-sedan. Mencoba merangkai nostalgia yang jauh dari obyektivitas, namun sarat dengan kejujuran subyektivitas.

Mengenang Perjumpaan

Waktu itu Juli 2008, kontak pertama saya dengan KlabKlassik berlangsung. Classical Guitar Fiesta menjadi pintu masuk awal romantisasi ini terjadi. Saya, yang kebetulan main gitar, menjajal gawe-an anak-anak Bandung ini. Di hari audisi, teman-teman KlabKlassik sangat hangat menjamu saya dengan keramahan khas orang Sunda. Lengkap dengan gayanya Royke Ng yang santun dan sungkan, Christian yang rajin nyengir, dan Syarief yang tiba-tiba saja menjadi akrab seperti kita sudah berkawan lama. (Atau karena dia sok akrab, ya? Hehe..).

Di audisi itu pula saya langsung terpikat dengan semangat barudak-barudak Bandung tersebut. Kota boleh sepi dari hingar bingar musik klasik, tapi nyali dan semangat mereka harus selalu ramai. Kira-kira pesan itu yang terbaca oleh saya dari tampilan mereka. Baru, setelah melihat permainan beberapa peserta yang ikut audisi, saya berkecil hati. Ternyata di Bandung banyak sekali gitaris bagus!

Awal yang manis itu tidak saya sia-siakan untuk terus menjalin relasi. Relasi yang memang sangat karib. Tulus. Saya masih sempat mesem-mesem sendiri kala mengingat kejadian ketika seorang penggiat KlabKlassik (maaf, saya lupa namanya) yang mati-matian (saya ulangi sekali lagi: mati-matian!) ingin membuat saya nyaman dengan meminjamkan ponsel dan menelpon ke sana-sini terkait dengan transportasi saya untuk pulang ke Jakarta. Kejadian ini berlangsung ketika hari-H pelaksanaan konser Classical Guitar Fiesta berlangsung.

Bagi saya, kebaikan itu bukan sekedar hubungan antar panitia dengan peserta, tapi lebih dari itu. Ada bentuk relasi yang jujur dan tulus. Relasi yang menghargai, menghormati, dan menyaudarakan tiap tamu yang singgah di markas mereka. Manisnya, relasi ini tidak
usai bersamaan dengan usainya kegiatan, tapi terus menyambung dalam kesibukkan kami masing-masing, keberjarakan kami masing-masing, Bandung-Jakarta.

Saya punya bukti bahwa relasi persahabatan ini benar-benar manis. Di Juli 2008, pada resital gitar Hery Budiawan berjudul Second Stage, saya terkejut melihat beberapa teman KlabKlassik ada di sana. Mereka rela datang ke Jakarta demi mendukung Hery yang notabene anak Jakarta. Yang tak habis pikir, mereka rela menempuh waktu lebih dari 2 jam untuk menyaksikan acara yang tak sampai 1½ jam. Buat saya ini cukup konyol, tapi konyol yang manis. Manis sekali.

Catatan Sahabat

Dalam persahabatan, ada kalanya saya perlu membuat catatan-catatan khusus mengenai seseorang. Begitu pun catatan mengenai persahabatan dengan teman-teman KlabKlassik. Catatan ini bukan untuk disetujui, bukan juga untuk ditolak. Tapi untuk didengar saja. Anggaplah semacam ungkapan kasih antar dua sahabat yang tanpa sekat, sehingga kesungkanan pun menjadi lenyap.

Di pengantar editorial memoar ini, Syarief dengan amat reflektif sudah menyadari akan perjalanan KlabKlassik. Eksistensial. Kata ini seakan menjadi momok bagi banyak komunitas. Banyak komunitas sibuk bicara mengenai usia kelompok mereka. Maka seringkali, perayaan kehidupan sebuah komunitas hanya dihargai sebatas umur, sebatas angka. Tapi apalah artinya bila hanya berkutat dalam ranah eksistensial? Bukankah para selebritis yang bergenit di layar televisi juga sibuk pada lahan yang satu ini: ingin tetap ada! Namun, apakah keberadaan selebritis tersebut mampu memberi makna pada kehidupan masyarakat luas lebih dari sekedar seremonial pemujaan yang berimbas pada penafian akal sehat?

Saya tidak bermaksud menyetarakan KlabKlassik dengan selebritis. Analogi selebritis yang sibuk pada perayaan eksistensialnya hanyalah gerbang berpikir untuk mengatakan bahwa KlabKlassik harus membentangkan mimpi-mimpi lain dari sekedar umur panjang. Artinya, keluarlah dari konsep sekedar ‘ada’, dan masuk pada konsep untuk ‘mengada’.

Saya pribadi merasakan fenomena menjamurnya komunitas-komunitas dari berbagai latar belakang sejak masa Reformasi ini sebagai sesuatu yang sangat meresahkan, sekaligus menjenuhkan. Lihat saja klub-klub motor yang lebih banyak gayanya dari pada karyanya, kelompok-kelompok penulis yang bahkan jarang menulis, kelompok-kelompok agama fundamentalis yang mudah menuhankan diri mereka, sampai kelompok pecinta alam yang pada kenyataannya malah merusak alam. Banyak pribadi di dalamnya membutuhkan sebuah kelompok yang terlembaga untuk menunjukkan identitasnya semata, eksistensinya semata. Pribadi-pribadi yang rapuh mudah sekali larut dalam pemberhalaan terhadap kelompok-kelompok mereka sendiri. Keberadaan menjadi sesuatu hal yang patut dipertahankan, kalau perlu direbut. Namun, apakah keberadaan kelompok mereka memberi makna pada kehidupan masyarakat adalah urusan dengan persetan. Yang penting gua ada!, begitu ungkapnya.

Wacana di atas kemudian menggiring pada satu wacana lain tentang ranah berkarya sebuah komunitas. Banyak komunitas, setelah larut dalam (sekedar) ke-ada-an mereka, kemudian larut lagi pada titik pijak yang serba terpagari. Saya menyebutnya ‘kesempitan sektoral’. Artinya, banyak kelompok yang hanya dipusingkan urusan domestiknya semata. Mereka hanya membaca kelompok mereka secara tekstual, bukan kontekstual.

Biar lebih mudah perlu contoh: lihat bagaimana agama berlomba untuk mengembangkan kelompoknya semata atau urusan domestiknya semata ketimbang memakai dirinya sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan tertentu, katakanlah perdamaian dunia. Atau lihat bagaimana sebuah kelompok pecinta musik keroncong hanya berkutat terus menerus selama bertahun-tahun dalam judul yang sama: melestarikan musik keroncong. Lalu, kalau memang sudah lestari memang mau apa?

Contoh di atas membantu saya untuk mengatakan bahwa sebuah kelompok yang baik, harus berani keluar dari kesempitan sektoral mereka sendiri. Kelompok atau komunitas haruslah dipandang sebagai alat atau sarana untuk mencapai sesuatu, bukan sebagai tujuan. Karena akan menjadi bahaya dan kontraproduktif ketika menjadikan kelompok atau komunitas sebagai tujuan itu sendiri.

Bukan tanpa sebab hal di atas saya tuliskan. Musababnya, kalimat yang ditulis di Sejarah Klab inilah yang memprovokasi saya: “Maka tujuan kehadiran kami sebatas menyuguhkan probabilitas pada masyarakat: musik klasik belum mati”. Bagi saya, mewacanakan ‘musik klasik belum mati’ haruslah dimengerti sebagai sebuah cara untuk mengapai tujuan-tujuan lain yang lebih kontekstual bagi masyarakat, jadi bukan merupakan tujuan itu sendiri.

Kalau kini usia KlabKlassik sudah menginjak angka tiga tahun, itu adalah hal yang patut disyukuri sesyukur-syukurnya. Saya yang punya beberapa pengalaman dalam membangun komunitas pun menyadari tentang sulitnya mengawal keutuhan sebuah komunitas. Oleh karena itu, biarlah teman-teman KlabKlassik sejenak bersukacita merayakan hari jadinya, sebagai sebuah simbol untuk memerdekakan diri dari rutinitas yang mencekam. Karena percayalah, kalian pantas untuk sebuah perayaan, yang pada hakikatnya adalah sebuah kemenangan.

Selamat hari jadi! Selamat (lebih dari sekedar) merayakan angka-angka...


*Tulisan untuk menyambut ulangtahun KlabKlassik, sebuah komunitas pecinta musik Klasik di Bandung. Tulisan ini dimuat dalam buku memoar mereka dalam rangka merayakan hari jadi.

Tuesday, March 31, 2009

Selamat Pagi, Mas Presiden!



“Ya, yang bisa mengubah hanyalah generasi angkatan muda…”

- Pramoedya Ananta Toer -


Mulailah membaca catatan kecil ini – yang mungkin tidak ada gunanya, juga gaungnya – dengan sepotong ucapan: Selamat malam generasi tua!


BUKAN karena benar-benar sudah malam kalau ucapan itu kita layangkan. Tapi ini semacam salam perpisahan, salam menjelang tidur. Sepucuk salam pengantar istirahat buat para pemimpin tua sebuah bangsa yang juga mulai menua.


Sayangnya, menuanya bangsa ini tidak diimbangi dengan kedewasaan dan kearifan, kesejahteraan dan kemapanan. Tapi malah, dengan rapor buruk negara, ketuaan bangsa Indonesia makin renta dengan hadirnya ‘keriput’ korupsi, ‘flek’ kemiskinan, ‘TBC’ buta huruf, ‘osteoporosis’ terorisme, ‘asma’ pelanggaran HAM, serta ‘stroke’ pendidikan rendah. Maka sudah lengkaplah sosok renta bangsa Indonesia dengan segala tetekbengek yang melacur di sekujur tubuhnya. Bangsa Indonesia laksana seorang saudagar kaya yang menghabiskan sisa hidupnya dengan berjuang melawan penyakit di atas ranjang. Saudagar itu, dengan puluhan hiasan mewah yang menggelayot di tubuhnya, tidak lagi mampu berdiri melihat cucu-cucunya yang gemuk sedang berlarian di halaman rumahnya yang luas.


Sudah 10 tahun sejak lengsernya Mbah Harto, kumandang reformasi didengungkan. Tapi bangsa ini masih duduk manis di depan televisi menonton sinetron tolol. Tak mencoba menggeser tubuh untuk memperbaiki bagian rumah yang rusak. Tak berupaya mencari sofa yang lebih empuk atau mengganti warna cat dinding yang mulai mengelupas. Hingga mulai sadar dengan lahirnya ketidaknyamanan dan keengganan untuk tetap berkata: Saya baik-baik saja.

Silih berganti – seperti menang gambreng – satu per satu pemimpin gaek menjabat sebagai presiden. Mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai SBY. Semuanya menjalankan pemerintahan dengan baik. Bahkan teramat baik hingga tak berani melakukan perubahan radikal yang membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.


Di antara generasi tua itu seperti ada halangan untuk berpikir dan bertindak revolusioner. Mekanisme menjadi presiden lewat parpol membuat mereka melakukan kompromi-kompromi politik yang anomali bagi masyarakat awam. Misalnya saja, dengan dukungan beberapa parpol yang berkoalisi, seorang presiden terpilih menjadi tidak mudah dalam membuat keputusan yang mungkin saja merugikan salah satu parpol. Kompromi-kompromi macam inilah yang senantiasa menghambat kemajuan Indonesia.


Lain hal, para generasi tua, dengan rentang usia yang melintas pada zaman Orde Lama dan Orde Baru, dijangkiti kultur kebanyakan birokrat kita yang busuk. Dari kolusi sampai korupsi. Nepotisme sampai jual beli hukum. Yang mungkin daftar kebusukan itu tak cukup ditampung dari Sabang sampai Merauke.


Kultur macam ini jugalah yang sangat mengganggu proses Indonesia menjadi negara yang disegani. Sistem boleh ciamik dan modern. Fasilitas boleh canggih dan mengadopsi Barat. Tapi selama kultur manusia yang menjalankan sistem tersebut busuk, tidak menjadi istimewalah ke-ciamik-an dan ke-modern-an itu. Selama kultur manusia pemakai fasilitas tersebut bobrok, ada baiknya sikap malu yang mesti dipasang ketika menggotong predikat canggih dan adopsi Barat itu.


Bukan itu saja, para generasi tua sudah terperangkap dalam perspektif waktu yang sempit. Mereka hidup di jaman yang baru, tapi membawa pemikiran lama. Sebuah jaman harus diperlakukan lewat tuntutan kebutuhan jaman tersebut. Itu syarat sebuah kebaruan.

Namun, yang terjadi sekarang, kepemimpinan bangsa hanya dihuni oleh nama-nama lama yang mengalami rentang waktu yang dipenuhi kultur busuk para birokrat dan juga melalui proses mekanisme parpol yang buruk. Sebut saja nama Megawati (61), Wiranto (61), Amien Rais (64), Akbar Tanjung (62), SBY (58), Sutiyoso (63), Sultan Jogja (62), serta Jusuf Kalla (66). Mereka semua pernah hidup di era pemerintahan yang kulturnya busuk. Mereka juga bertumbuh dalam sistem parpol yang tidak berorientasi kepada rakyat. Jadi percuma saja bila ada generasi tua yang bersih, memimpin. Karena sebersih apapun, dia sudah terbiasa dengan kultur busuk birokrat, akrab dengan kompromi-kompromi, serta terperangkapnya dalam perspektif waktu yang sempit.


Oleh karena itu, kita sekalian BERHAK menolehkan perhatian pada orang-orang lain di luar generasi tua. Orang-orang lain tersebut dengan ideologi dan mimpinya pantas dibukakan jalan menuju kepemimpinan bangsa. Orang-orang lain tersebut, yang tidak pernah terlibat dalam kultur busuk tersebut, layak diberi kesempatan menggawangi kursi Presiden Indonesia. Tak lain dan tak bukan, adalah mereka orang-orang baru dengan semangat dan pemikiran yang baru, yakni para generasi muda bangsa.


Maka layaklah ucapan selamat malam di awal tadi, kita serukan pada mereka generasi tua. Dan dengan santun kita antarkan mereka untuk beristirahat menunggu gerbong Indonesia Jaya yang dikomandoi para generasi muda.


Siapa Generasi Muda?


Tapi masih adakah generasi dengan syarat-syarat yang sudah diurai pada halaman sebelah tadi di dalam negara berjumlah 230 juta penduduk ini? Agak sulit menjawabnya bila kita belum memahami siapa generasi muda yang dimaksud.


Generasi muda adalah mereka yang berusia muda. Kalau bicara angka, mungkin angka 35-50 adalah kisarannya. Tapi sebuah angka bukanlah syarat mutlak seseorang dikategorikan sebagai generasi muda. Ia bisa saja berusia di atas 50, namun memiliki pikiran yang baru (muda), kultur yang baru (belum pernah terlibat dalam kerja parpol atau pemerintahan yang korup), semangat yang baru, juga mimpi yang baru.


Dalam wacana mencari pemimpin muda ini, generasi tua yang dituduh bertanggungjawab karena tidak melakukan regenerasi, berkilah. Mereka menganggap bahwa kepemimpinan mereka bukanlah mau diri sendiri, tapi keadaan yang mengharuskan mereka maju kembali dalam bursa capres. Bahkan dengan sangat jantan mereka menantang lahirnya para pemimpin dari generasi yang lebih muda dari mereka.


Namun apa yang terjadi menunjukkan mereka tidak dengan sungguh mengatakan itu. Orang muda selalu berdiri di bawah bayang-bayang generasi tua. Coba kita lihat PAN (Partai Amanat Nasional) yang dipimpin oleh orang muda seperti Soetrisno Bachir, ternyata masih dibayangi oleh sosok Amien Rais di belakangnya. Sehingga belakangan kita sama-sama saksikan usaha mati-matian dari Soetrisno Bachir dalam mencitrakan dirinya ke masyarakat lewat iklan-iklan yang kerap menganggu kenyamanan ketika menonton atau pun membaca media massa.


Bukankah ini akibat dari tidak mulusnya regenerasi partai politik? Atau pada regenerasi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang memasang Muhaimin Iskandar sebagai boneka. Karena toh suara Gus Dur tetap yang menahkodai arah PKB. Sebuah gerontokrasi1 yang tidak dengan sungguh memberi peluang bagi orang muda untuk memimpin.


Pada hal lain, kita bisa lihat bagaimana orang muda hanya dijadikan komoditi politik semata. Tentunya parpol-parpol amat menyadari suara besar yang dapat diraup dari kaum muda. Dalam konteks berbicara Pemilu 2009, dari 170 juta usia pemilih, 59% berusia muda, yakni 20-40 tahun. Dengan mewacanakan pemimpin kaum muda, yakni dengan memasangkan kaum tua dengan kaum muda dalam bursa capres, parpol berharap dapat mendulang suara banyak dengan kandidat kaum muda sebagai pemikat. (bandingkan dengan kemenangan Pilkada Jawa Barat yang mengusung Heryawan dengan Dede Yusuf sebagai orang muda – keduanya berumur 41 tahun. Atau Pilkada Sulawesi Selatan yang dimenangi oleh pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang, di mana Nu’mang masih berusia 45 tahun)


Hal inilah yang disebutkan di atas sebagai komoditi politik. Orang muda hanya diberi posisi sebagai alasan strategis menjalankan program tim sukses. Orang muda hanyalah alat. Orang muda hanya sebuah objek, bukan subjek yang berhak menentukan arahnya sendiri.


Jadi, memang susah – bukan tidak mungkin – mencari pemimpin dari generasi muda. Mereka dianggap tidak ada oleh masyarakat. Kalaupun ada, mereka hanya pribadi-pribadi yang kadang anonim dan berdiri sendiri tanpa basis massa. Mereka bukan tidak ada, tapi mereka ditiadakan kaum tua.


Orang Muda Becus


Mendengar nama Benigno Aquino Jr., mungkin kita langsung mengasosiasikannya pada sebuah nama, Corazon Aquino. Ya, Ninoy – panggilan Beningno – adalah suami dari Corazon, mantan presiden Filipina. Benigno muda aktif berpolitik. Ia menjadi walikota pada usia yang sangat muda, 22 tahun. Lalu berlanjut menjadi gubernur pada usia 28 tahun. Dalam usia 34 tahun, ia masuk sebagai senator termuda Filipina saat itu. Akhirnya karena tindaktanduk politiknya, ia dihukum mati oleh Ferdinand Marcos, presiden Filipina saat itu. Namun tak lama sang istri, Corazon, melanjutkan misi politik suaminya, yang mengantarnya pada kursi Presiden Filipina di tahun 1986.


Di belahan dunia lain, ada tokoh muda seperti Evo Morales yang memimpin Bolivia pada usia 47 tahun. Juga ada Bashar Al Assad dari Suriah yang menjadi presiden pada usia yang belum genap 45 tahun. Ada juga Hugo Chaves yang menjadi presiden Venezuela pada usia 44 tahun. Di Amerika, nama pemimpin muda berderet dari J.F. Kennedy (berusia 43 tahun ketika menjabat presiden), Bill Clinton (47), sampai yang ramai dibicarakan sekarang, Barack Obama (47).

Nama-nama dalam negeri pun tak kalah bersaing. Soekarno, Sang Fajar dari Timur itu, memimpin PNI (Partai Nasional Indonesia) pada usia yang belia, 26 tahun. Dan akhirnya menduduki kursi kepresidenan pada usia 44 tahun. Atau lihat Hatta dan Sjahrir yang menjadi wakil presiden dan perdana mentri di usianya yang ke-43 dan 36 tahun.


Singkat kata, stereotip tidak becus, berlagak doang, urakan, sulit diatur, apatis, dan seterusnya, dan seterusnya yang disematkan pada orang muda, boleh menjadi tidak sepenuhnya benar setelah kita melihat deretan prestasi yang diukir nama-nama orang muda di atas. Lewat mereka kita melihat bahwa orang muda bisa memimpin dengan becus. Bukan saja memimpin. Tapi dengan perubahan radikal yang dilakukan, orang muda dapat menjadi agen pembaharu pada satu keadaan yang carutmarut.


Gerakan Korektif


Di Indonesia, setelah lama dikurung dalam suatu jaman yang otoriter, yakni selama 3 dekade Orde Baru berkuasa, di mana rakyat melulu menjadi objek, menghasilkan kenihilan generasi muda. Sikap Soeharto yang melanggengkan kekuasaan tak memberi ruang berpikir untuk membidani kehadiran generasi berikutnya. Sehingga stok orang muda Indonesia yang berpolitik menjadi kosong.


Bukan itu saja. Sikap otoriter dan represif yang digunakan, membuat rakyat tak lagi mempunyai mimpi. Rakyat menganggap mimpi merupakan barang mewah untuk dikonsumsi. Maka rakyat hanya berharap, tak lagi bermimpi. Berharap agar pemimpin bangsa membawa mereka ke arah yang lebih baik. Namun tidak pernah berhasrat untuk membangun mimpi mereka sendiri. Rakyat menyerahkan mimpinya kepada pemimpin. Dan inilah yang melahirkan sebuah generasi muda yang apatis.


Sikap apatis ini ditunjukkan dengan enggannnya orang muda untuk membangun mimpi rakyat lewat politik. Mereka menganggap bahwa politik kotor dan culas, dan hanya dengan menjauhkan diri darinya, orang muda dapat terus mempertahankan idealismenya. Sehingga, selama ini masyarakat hanya menyaksikan aksi kolektif orang muda yang dibangun dalam ranah gerakan protes. Orang muda hanya menjadi gerakan korektif. Selama tidak ada yang perlu dikoreksi, mereka hilang dari peredaran dalam upaya membangun bangsa.


Di sisi lain, di mana orang muda gerah terhadap parpol, justru lewat parpol itu pulalah jalan menuju kepemimpinan dibukakan. Pada kondisi ini, perlu dipikirkan mengenai wacana calon presiden idependen yang tidak berdasarkan parpol. Atau memang para elit politik tua kita seakan sudah membentengi lingkaran kekuasaan mereka dengan undang-undang yang rapih, yang menghambat para orang muda untuk maju sebagai pemimpin.


Sekali lagi: Selamat Malam…


Bila pandangan sudah berkelana sampai pada baris ini, berarti catatan kecil ini sebentar lagi mau pamit. Pergi menjauh dari mata-mata yang menyapu kata-kata. Catatan ini akan kembali berpencar menjadi kata-kata yang berdiri sendiri-sendiri. Kata-kata ini yang kemudian mencari jalan sunyi untuk ditempuh. Sebuah jalan spiritual untuk menemukan kawanan kata yang lain, hingga berkumpul membentuk suatu panorama kalimat, atau suatu bangunan gagasan yang muluk.


Memang harus muluk untuk membangun mimpi. Karena mimpi adalah pribadi yang menjauh dari dunia realitas. Dunia nyata yang kejam dan tirus. Siapa yang tak pernah bermimpi, mungkin ia tak pernah merasakan buruknya dunia ini.


Kata-kata itu – dalam kesunyiannya – menemukan bentuk kembali. Mereka berkumpul dan membentuk sebuah kalimat. Dengan sopannya mereka membungkuk dan saling bergandeng merangkai diri:


Selamat malam, generasi tua…

Selamat pagi, Mas Presiden!


Catatan kaki:

1. Istilah kedokteran: gerontologi. Artinya menunjukkan pada satu fase mulainya penuaan dalam kehidupan seorang manusia. Dalam konteks politik, istilah ini diadopsi yang maknanya kurang lebih keadaan politik yang dikuasai kaum tua.


Dimuat dalam buku kumpulan esai Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter, Yogyakarta: Kanisius, 2008

Saturday, March 14, 2009

Romansa Sore Hari

aku kesepian di sini
di dalam sebuah kotak 2 X 2
yang dibalur biru yang juga sendu
hanya alunan musik menghiasi
itupun ditabrak oleh kehidupan gang
yang dimuati bocah-bocah riang dan penjual roti

di sini memang benar-benar sepi
jiwaku tak tenang menatap beribu jenak ke depan
juga puluhan masa yang siap mencegatku

aku rindu dibelai
sambil melantunkan sajak-sajakku yang lirih
ditemani secangkir kopi yang panas
dan bau tanah yang disetubuhi air
aku rindu didekap
berbicara tentang mimpi-mimpi kita
atau ketololan-ketololan yang pernah ada

aku sepi
jadi rindu
ah,
sore yang romantis!


kosan bakung, karawaci
23 mei 2006